Browse By

Semangat dari Indonesia Timur

Ketika mengunjungi salah satu pulau yang berada di bagian Timur Indonesia yaitu Labuan Bajo, Flores, penulis benar-benar terpukau akan kekayaan alamnya yang indah. Pulau yang menjadi habitat asli dari komodo ini sudah mulai banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Hal itu pun tentu berpengaruh pada kelestarian lingkungan disana begitupun juga berpengaruh pada masyarakatnya yang mulai hidup modern dan mengenal teknologi. Tentu ini bukan hal yang salah, dengan adanya teknologi tentu dapat memudahkan setiap orang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari nya.

Berbeda dengan salah satu anggota keluarga yang penulis kunjungi ketika sedang menjelajah ke tanah Flores. Penulis menemukan sebuah rumah panggung kecil terbuat  dari kayu yang masih sangat sederhana dan rumahnya ini sangat jauh dari rumah penduduk lainnya. Kalau malam hari mungkin akan sangat gelap ketika melewati jalan ini, karena tidak terdapat penerangan dipinggir jalan.

Di rumah inilah tempat dimana Bapak Theodorus bersama istrinya, dan anaknya Ibu Yasinta, serta cucunya Yesa tinggal. Meskipun hidup dalam keterbatasan, tidak menghilangkan semangat mereka dalam menjalani hidup ini. Untuk menunjang kehidupan sehari-hari keluarganya, Ibu  Yasinta membuka warung kecil dipinggir jalan. Penulis pun menyempatkan untuk beristirahat sejenak di warung kecil milik Ibu Yasinta ini sambil menikmati keindahan pemandangan sekitar.

Dari keluarga bapak Theodorus ini kita mengetahui apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahigaan yang sesunggunya adalah bukan diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi seberapa bersyukur dan seberapa besar hati yang  dimiliki. Tidak punya gadget canggih pun mereka tetap bisa hidup bahagia, bahkan lebih bahagia daripada kita yang serba cukup. Berbeda dengan kita, misalnya sehari tanpa gadget saja kita akan sangat gelisah, karena kebahagiaan kita bukan terletak pada hati kita, tetapi pada gadget tersebut.

Bersama bapak Theodorus

Bersama Ibu Yasinta, Yesa, dan Kseniia

Lain halnya dengan keluarga Bapak Theodorus, malam harinya penulis diajak makan malam oleh salah satu  penduduk didekat penginapan, yaitu dirumah Ibu Raisa. Saya berbincang-bincang cukup lama bersama Ibu Raisa, suaminya, dan 2 saudara laki-lakinya. Rumahnya mungkin sangat sederhana dan bukan dari keluarga berada, tetapi rumah ini ditempati oleh orang-orang besar dan hebat, yaitu besar ilmunya dan besar semangatnya dalam meraih cita-citanya. Ketika menceritakan tentang latar belakang keluarganya, saya benar-benar merasa sangat kagum akan semangatnya dalam meraih prestasi dan pendidikannya. Dua saudara laki-laki dari Ibu Raisa ini   adalah seorang perwira dan salah seorang lagi adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi nya. Dari hal tersebut mungkin adalah cambuk bagi kita yang masih sering bermalas-malasan dalam belajar sementara orang tua kita bersusah payah mencari uang untuk biaya kita.

Dari mereka kita bisa belajar bahwa keterbatasan itu janganlah dijadikan penghalang dalam meraih mimpi. Ketika kita punya mimpi, maka kejarlah mimpi itu. Salah satunya adalah dengan pendidikan, karena pendidikan adalah tonggak  estafet kepemimpinan generasi muda sebagai harapan suatu bangsa agar bisa berubah ke arah lebih baik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.