Browse By

Way From The Sky to Get Scholarship

Melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi adalah harapan bagi kita semua, begitu pun juga dengan saya. Pendidikan adalah hak bagi setiap insan. Hal ini juga yang selalu saya tanam pada prinsip yayasan pengembangan pemuda internasional yang sedang saya dan teman-teman bina; Youth Break the Boundaries (YBB). Banyak cara untuk menempuh Pendidikan baru ke strata yang lebih tinggi, termasuk salah satunya adalah dengan beasiswa.

Pada 7 September 2018 lalu, saya yang sudah berstatus sebagai mahasiswa resmi di Universitas Istanbul sedang mempersiapkan beberapa kebutuhan perkulihan yang nantinya akan dimulai pada pertengahan September kala itu. Menghuni asrama yang dibimbing secara intensif oleh para pengajar menjadi salah satu mimpi saya saat itu. Bagaimana tidak, salah satu yang membimbingnya adalah dosen di fakultas saya sendiri yang amat mashur; Prof. Dr. Bekir KUZUDİŞLİ. Selain bisa tinggal tanpa dipungut biaya, kita juga bisa mendapatkan beasiswa tambahan dari İlim Yayma Cemiyeti selaku yang membawahi asrama ini.

Pada hari itu saya mengikuti tes untuk masuk asrama tersebut. Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa yang akan diujikan sehingga periapannya pun kurang. Disana saya mengikuti ujian tertulis dan lisan (wawancara). Untuk ujian tulis, saya menghabiskan waktu sekitar dua jam lamanya dengan beberapa pertanyaan dengan bahasa Turki dan Arab, sedangkan untuk wawancara sendiri, disana saya dihadapkan oleh lima sampai enam penguji.

Singkat cerita setelah ujain tersebut, saya tidak mendapatkan hasil yang baik untuk ujian yang saya lalui itu. Saya pun juga terpaksa nenempati asrama yang lebih dekat dengan kampus di İFAM derneği yang kebetulan baru membuka cabang di Istanbul beberapa tahun lalu.

Perkenalan saya dengan dengan salah satu anggota di İFAM derneği berawal dari kampus. Pada kala itu, saya ada kelas siang dari pukul 13.00 – 14.30 waktu setempat, dan kemudian sekitar pukul 15.00 saya solat dhuhur bersama teman-teman kampus di mushola. Saya berkesempatan untuk memimpin jamaah solat, namun diwaktu yang menujukkan akan segera tiba waktu sore itu saya memimpin jamaah solat dengan niat solat ashar. Dalam alam bawah sadar, saya bepikir itu adalah solat ashar seperti waktu di Indonesia. Saya pun membatalkan solat yang ketika itu menjadi imam. Setelah solat, saya didatangi oleh salah satu teman yang kebetulan mengikuti jamaah solat yang saya pimpin dan menanakan hal tersebut.

Dari situlah saya mulai akrab dengannya dan pada kesempatan lain saya diperbolehkan untuk tinggal di asrama yang biasa ia tinggali di dekat kampus tanpa biaya termasuk juga makan. Di asrama itu pula ternyata banyak teman-teman saya yang satu kelas di kampus. Selain bisa belajar bersama, kita pun juga dibimbing untuk belajar tambahan seperti dulunya yang saya inginkan.

Kemudian setelah beberapa hari dimulainya aktifitas perkuliahan, saya mendapatkan telepon dari salah satu guru (hoca) saya. Ia pun mengajak saya untuk berkunjung ke kantornya dengan membawa beberapa dokumen-dokumen perkuliahan. Sesampainya di kantor hoca, saya pun mengisi formulir yang diminta. “Ya, nanti kamu dapat beasiswa.” Tutur hoca. “Beasiswa apa hoca?” Tanya saya. “Beasiswa  İlim Yayma Cemiyeti.” Jawabnya. Dengan ekspresi yang sangat kaget dan tidak tahu mau berkata apa lagi, saya pun menyetujuinya.

Tak pernah disangka skenarionya akan seperti ini. Allah belum menyetujui saya untuk tinggal di asrama İlim Yayma Cemiyeti namun bisa mendapatkan beasiswanya. Allah pun menggantikan tempat tinggal İlim Yayma Cemiyeti yang berjarak hampir satu jam lamanya dari kampus ke tempat yang hanya berjarak lima belas menit saja. Kebetulan asrama İlim Yayma Cemiyeti berada di daerah Uskudar bagian Asia, dan sedangkan kampus saya berada di daerah Fatih bagian Eropa.

Kita memang bisa merencakan sesuatu yang terbaik bagi kita, namun Allah sungguh telah menyiapkan skenario yang lebih baik untuk kita. Do your best effort and find your way from the sky! Aldi Subakti

Leave a Reply

Your email address will not be published.