Seoul, South Korea — Korea Youth Summit (KYS) 2026 berlangsung di Seoul, Korea Selatan, pada 7–10 September 2026. Mengusung tema “Empowering Youth to Preserve Culture and Driving Sustainable Innovation” dan tagline “Living Culture, Lasting Legacy”, kegiatan ini mempertemukan generasi muda dari berbagai latar belakang untuk membahas budaya, kepemimpinan, inovasi, dan perdamaian.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, Hyanghwa Kwak membagikan perjalanan personal dan kepemimpinannya melalui sesi bertajuk “My Journey to One Korea and a Peaceful Future.” Melalui pengalamannya sebagai Korean American dan keterlibatannya dalam berbagai gerakan kepemudaan, ia mengajak peserta melihat bahwa generasi muda dapat mengambil peran nyata dalam membangun masa depan yang lebih damai.
Mengenal Hyanghwa Kwak dan Perjalanannya
Hyanghwa Kwak merupakan mahasiswa Mechanical Engineering di University of Washington, Seattle. Selain menekuni bidang teknik, ia memiliki perhatian besar terhadap kepemimpinan pemuda, pembangunan perdamaian, dan isu-isu yang berkaitan dengan Semenanjung Korea.
Hyanghwa juga aktif sebagai Global Peace Youth Manager dan Creative Director di Alliance for Korea United at UW. Melalui peran tersebut, ia terlibat dalam berbagai inisiatif yang mendorong perdamaian, persatuan, serta peningkatan kesadaran generasi muda mengenai masa depan Korea.
Namun, perjalanan tersebut tidak muncul begitu saja. Identitasnya sebagai Korean American dan berbagai percakapannya dengan pembelot Korea Utara mendorong Hyanghwa untuk memahami lebih jauh tentang reunifikasi Korea serta posisi generasi muda dalam proses tersebut.
Baca juga : Samer Samhoun Bahas Pentingnya Kepercayaan dalam Membangun Jejaring Global di KYS 2026
Memahami Makna “Korean Dream”
Dalam presentasinya, Hyanghwa memperkenalkan konsep “Korean Dream” sebagai salah satu gagasan yang membentuk pandangannya terhadap masa depan Korea. Ia juga mengaitkannya dengan prinsip pendirian Korea, Hongik Ingan, yang secara umum mengandung gagasan untuk memberikan manfaat yang luas bagi kemanusiaan.
Menurut perjalanan yang ia bagikan, memahami masa depan Korea tidak cukup hanya melalui perspektif sejarah atau politik. Sebaliknya, generasi muda juga perlu memahami nilai kemanusiaan dan tanggung jawab bersama yang dapat mendorong terciptanya masyarakat yang lebih terhubung.
Karena itu, pembahasan mengenai reunifikasi Korea juga menjadi ruang untuk mempertanyakan bagaimana generasi muda dapat berkontribusi secara nyata.
Dari Mendengar Kesaksian hingga Memahami Krisis Kemanusiaan
Keterlibatan Hyanghwa dalam Alliance for Korea United di University of Washington memberinya kesempatan untuk mendengar langsung berbagai kisah kehidupan dari pembelot Korea Utara.
Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya mengenai kondisi yang dihadapi masyarakat Korea Utara, termasuk persoalan hak asasi manusia. Selain itu, kisah-kisah tersebut membuat isu reunifikasi menjadi lebih dekat dengan dimensi kemanusiaan.
Dengan demikian, Hyanghwa melihat perdamaian bukan sekadar gagasan politik. Baginya, pembahasan mengenai masa depan Semenanjung Korea juga berkaitan dengan kehidupan manusia dan kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Mengubah Aspirasi Menjadi Aksi Bersama Global Peace Youth
Perjalanan tersebut kemudian membawanya pada peran sebagai Manager di Global Peace Youth (GPY) Korea. Melalui posisi ini, Hyanghwa mulai menerjemahkan aspirasinya ke dalam tindakan dengan memanfaatkan kemampuan dan latar belakang yang ia miliki.
Ia juga membagikan pembelajaran dari keterlibatannya dalam One Korea Youth Forum 2026. Forum tersebut memberinya perspektif mengenai berbagai pendekatan dalam membangun perdamaian global sekaligus memperlihatkan bagaimana generasi muda memiliki karakter dan peran tersendiri dalam proses tersebut.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa kontribusi terhadap perdamaian tidak harus dimulai dari satu jalur tertentu. Sebaliknya, anak muda dapat menggunakan bidang keahlian, pengalaman, dan jaringan yang mereka miliki untuk mendukung isu yang mereka pedulikan.
Menggabungkan Teknik, Kepemudaan, dan Perdamaian
Sebagai mahasiswa teknik sekaligus pegiat isu internasional dan kepemudaan, Hyanghwa melihat kombinasi pengalamannya sebagai kekuatan yang dapat digunakan untuk berkontribusi pada perdamaian.
Ia juga mendorong peserta KYS 2026 untuk melihat potensi kontribusi mereka masing-masing. Kurangnya pengalaman atau pengetahuan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti mengambil langkah.
Dengan visi yang jelas dan kepedulian terhadap isu yang diperjuangkan, setiap individu dapat menemukan ruang kontribusinya sendiri. Terlebih lagi, generasi muda memiliki kesempatan untuk membawa perspektif baru ke dalam berbagai tantangan global.
Menguatkan Solidaritas untuk One Korea
Menjelang akhir presentasinya, Hyanghwa mengajak peserta untuk mempertimbangkan gagasan Youth Solidarity for One Korea. Ajakan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab kemanusiaan untuk saling mendukung dan menciptakan perubahan di bidang yang mereka geluti.
Pesannya juga relevan bagi peserta dari berbagai negara. Perubahan tidak selalu dimulai melalui tindakan besar. Sebaliknya, langkah yang sesuai dengan kemampuan dan lingkungan masing-masing dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas.
Melalui perspektif tersebut, Hyanghwa mengajak generasi muda untuk bergerak dari sekadar memiliki kepedulian menuju tindakan yang lebih nyata.
Kolaborasi YBB, KYS, dan Global Peace Youth
Kehadiran Hyanghwa Kwak dalam Korea Youth Summit 2026 juga mencerminkan ruang kolaborasi antara Youth Break the Boundaries (YBB), Korea Youth Summit (KYS), dan Global Peace Youth (GPY).
Kolaborasi ini mempertemukan berbagai perspektif mengenai kepemudaan, perdamaian, budaya, dan kepemimpinan dalam satu ruang internasional. Selain itu, keterlibatan organisasi dan komunitas kepemudaan membuka kesempatan bagi peserta untuk memahami bahwa isu global membutuhkan kerja sama lintas negara dan lintas latar belakang.
Melalui KYS 2026, YBB turut menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk bertemu dengan pengalaman dan gagasan yang dapat memperluas cara pandang mereka terhadap tantangan global.
Kesimpulan
Sesi Hyanghwa Kwak di Korea Youth Summit 2026 menunjukkan bahwa perjalanan menuju perdamaian dapat dimulai dari rasa ingin tahu, pengalaman personal, dan kemauan untuk terlibat. Dari identitas sebagai Korean American, percakapan dengan pembelot Korea Utara, hingga keterlibatannya dalam AKU dan GPY, setiap pengalaman membentuk cara Hyanghwa memahami peran generasi muda.
Pada akhirnya, pesannya tidak hanya berkaitan dengan masa depan Korea. Ia juga mengingatkan generasi muda bahwa setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi. Dengan memanfaatkan kemampuan, kepedulian, dan keberanian untuk mengambil langkah, generasi muda dapat menjadi bagian dari perubahan menuju dunia yang lebih damai dan terhubung.
For more information:
Website: www.youthbreaktheboundaries.com
Media Relations – Youth Break the Boundaries
Email: info@ybbfoundation.com


