Istanbul, Turki — Youth Break the Boundaries secara resmi mengumumkan para pemenang kategori High School – Best Idea Innovation pada ajang Istanbul Youth Summit 2026. Kategori ini menjadi wadah bagi siswa sekolah menengah untuk mempresentasikan ide inovatif yang menjawab berbagai permasalahan nyata di bidang pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sosial.
Melalui proses penilaian yang ketat, dewan juri memilih tiga kelompok terbaik berdasarkan urgensi masalah yang diangkat, kekuatan solusi yang ditawarkan, keberlanjutan program, serta potensi implementasi di masa depan. Dengan demikian, kategori ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dan inovasi dapat dimulai sejak usia muda.
Selain itu, para peserta tidak hanya diminta menghasilkan ide kreatif. Mereka juga didorong untuk menganalisis permasalahan nyata, merancang solusi yang terstruktur, serta mempresentasikan gagasan secara profesional. Oleh karena itu, pengalaman ini membantu peserta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah
Juara 1 – Group 6: TB Prevention – Better Health for Better Life
Group 6 (Ar-Rahmah Batch 2) meraih juara pertama dengan proyek yang membahas pencegahan tuberkulosis (TB), salah satu penyakit dengan angka kasus tertinggi di dunia. Berdasarkan data yang mereka paparkan, Indonesia menempati peringkat kedua secara global dengan lebih dari satu juta kasus TB.
Sebagai solusi, tim ini merancang program pencegahan berbasis sekolah yang mencakup beberapa kegiatan, yaitu:
- Saturday Exercise, untuk mendorong aktivitas fisik secara rutin
- Sunday Cleaning, sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan asrama
- Health Seminar yang diselenggarakan bersama dua rumah sakit dan tenaga kesehatan
- Program Student Health Ambassador
- Gerakan sosial untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat
Proyek ini mendapatkan apresiasi dari para juri karena memiliki dasar data yang kuat, kolaborasi dengan institusi kesehatan, serta komitmen terhadap keberlanjutan gaya hidup sehat di kalangan siswa.
Juara 2 – Group 7: Mendorong Budaya Literasi di Kalangan Pelajar
Group 7 dari Ar-Rahmah berhasil meraih juara kedua dengan proyek yang berfokus pada peningkatan minat membaca di kalangan siswa. Tim ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang mempengaruhi budaya literasi, di antaranya:
- Kurangnya ruang membaca yang nyaman
- Konten buku yang kurang menarik
- Kesulitan memahami materi bacaan
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mereka merancang beberapa program literasi yang terstruktur, yaitu:
- Literacy Night setiap Sabtu malam untuk membangun kebiasaan membaca
- Sesi public speaking agar siswa dapat menyampaikan kembali isi bacaan mereka
- Diskusi kelompok untuk memperdalam pemahaman dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis
Ketika sesi tanya jawab dengan juri berlangsung, tim ini juga menjelaskan rencana mereka untuk memperluas program ke sekolah lain. Mereka berencana mengirimkan proposal resmi serta mengundang sekolah lain untuk melihat langsung implementasi program tersebut.
Dengan pendekatan yang praktis, proyek ini dinilai memiliki potensi replikasi yang tinggi dan dampak jangka panjang bagi penguatan budaya literasi.
Juara 3 – Group 9: Perlindungan Pemuda dari Eksploitasi Pekerja Muda
Group 9 (Anwr Mayas, Nurzada Syidalyeva, Jawahir Nanees) meraih juara ketiga dengan proyek yang menyoroti eksploitasi pekerja muda.
Tim ini menjelaskan bahwa banyak remaja mulai bekerja pada usia 14–15 tahun tanpa memiliki informasi yang cukup mengenai kondisi kerja. Akibatnya, mereka menjadi rentan terhadap praktik eksploitasi.
Sebagai solusi, mereka mengusulkan pengembangan aplikasi digital informatif yang memungkinkan remaja mengakses informasi terpercaya mengenai pekerjaan yang ingin mereka lamar. Dengan demikian, para pemuda dapat membuat keputusan yang lebih aman dan terinformasi sebelum memasuki dunia kerja.
Para juri menilai proyek ini sangat relevan dengan tantangan sosial saat ini serta memiliki potensi besar dalam melindungi hak-hak pemuda melalui inovasi digital.
Suara dari Delegasi
Beberapa delegasi juga membagikan pengalaman mereka selama proses pengembangan proyek hingga presentasi di panggung internasional.
“Saya pikir tantangan terbesarnya adalah latihan presentasi. Prosesnya cukup sulit karena ada banyak revisi yang harus dilakukan,” ujar Haikal Muhammad Akbar, delegasi dari Ar-Rahmah Boarding School yang berhasil meraih berbagai penghargaan pada summit tersebut. Ia juga menerima penghargaan Best Presenter untuk kategori High School.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa di balik setiap inovasi terdapat proses pembelajaran, ketekunan, dan kerja keras yang luar biasa.
Baca juga : Khadeeja Ather di Istanbul Youth Summit 2026: Kreativitas, Empati, dan Inovasi untuk Pemimpin Muda
Kesimpulan
Pengumuman pemenang Best Idea Innovation kategori High School di Istanbul Youth Summit 2026 menunjukkan potensi luar biasa dari generasi muda dalam menciptakan perubahan. Mulai dari pencegahan penyakit, penguatan budaya literasi, hingga perlindungan pekerja muda, setiap proyek menghadirkan solusi yang relevan bagi masyarakat.
Melalui Istanbul Youth Summit 2026, Youth Break the Boundaries terus mendorong pelajar dari berbagai negara untuk berpikir kritis, berkolaborasi secara global, dan menciptakan dampak yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, kisah para pemenang ini membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari ide sederhana yang berani diwujudkan oleh generasi muda.



