Seoul, South Korea — Youth Break the Boundaries kembali menghadirkan diskusi bermakna dalam Korea Youth Summit 2026. Salah satu sesi panel discussion yang menarik perhatian peserta adalah sesi bersama Syifa Utari, profesional Indonesia dengan pengalaman karier lintas negara.
Dalam sesi ini, kamu diajak memahami bagaimana membangun karier global secara realistis. Mulai dari mimpi bekerja di luar negeri, tantangan nyata di Korea Selatan, hingga strategi bertahan dan bertumbuh di lingkungan kerja global.
Perjalanan Akademik dan Kiprah Profesional
Syifa Utari merupakan lulusan Bachelor of Communication and Community Development dari Institut Pertanian Bogor. Latar akademik ini membentuk fondasi kuat dalam komunikasi, pemahaman sosial, dan strategi pemasaran lintas budaya.
Ia telah menetap dan bekerja di Korea Selatan selama lebih dari tujuh tahun. Saat ini, Syifa berperan sebagai Associate Client Service Director, menangani klien global Airbnb di Korea Selatan. Dalam perannya, ia memimpin tim lintas fungsi dan menangani klien lokal, regional, hingga global.
Sebelumnya, pemuda asal Indonesia ini juga pernah menjadi Marketing and Advertising Lead untuk berbagai merek global, termasuk Grab Indonesia, L’Oréal Indonesia, dan FWD Life Insurance. Bahkan, pada September 2018 – December 2022, dirinya pernah menjadi Operations Senior Manager untuk menangani klien global seperti Google di Korea Selatan.
Baca juga: Korea Youth Summit 2026: Membangun Pemuda Global melalui Dialog, Budaya, dan Kolaborasi
Dari Manifestasi ke Realisasi Karier Global
Dalam sesi ini, Syifa membagikan perjalanan kariernya yang ia sebut sebagai “The Korea Journey”. Ia menekankan bahwa bekerja di luar negeri bukan hasil kebetulan, melainkan proses yang terencana.
Delegasi diajak memahami pentingnya meningkatkan keterampilan, mengenali kekuatan diri, serta membangun diferensiasi di pasar global. Networking yang sehat, reputasi profesional, dan kesiapan mental menjadi faktor kunci yang tidak bisa diabaikan.
Ekspektasi vs Realitas Bekerja di Korea Selatan
Syifa juga membahas perbedaan antara ekspektasi dan realitas bekerja di Korea Selatan. Di balik citra negara maju dan teknologi tinggi, terdapat tantangan nyata dalam budaya kerja.
Jam kerja panjang, struktur hierarki yang kuat, kompetisi tinggi, serta keterbatasan work-life balance menjadi bagian dari keseharian. Selain itu, hambatan bahasa dan isolasi sosial juga menjadi tantangan bagi pekerja asing.
Melalui pemaparan ini, para delegasi diajak melihat kehidupan profesional di luar negeri secara jujur dan objektif.
Bertahan, Bertumbuh, dan Membangun Nilai Global
Menutup sesi, Syifa membagikan refleksi tentang keputusannya untuk tetap bertahan di Korea Selatan. Dirinya memperkenalkan konsep strategic pause, yaitu berhenti sejenak untuk mengevaluasi arah karier.
Pengalaman bekerja di lingkungan yang menantang membentuk keterampilan yang dapat digunakan secara global. Mulai dari kepemimpinan lintas budaya, pengambilan keputusan cepat, hingga ketahanan mental. Semua ini menjadi nilai tambah untuk perjalanan karier jangka panjang.
Baca juga: Korea Youth Summit 2026 Resmi Umumkan Para Pemenang
Conclusion
Melalui sesi panel di Korea Youth Summit 2026, Syifa Utari menghadirkan perspektif realistis tentang membangun karier global. Pengalamannya menunjukkan bahwa bekerja di luar negeri bukan soal gengsi, tetapi tentang kesiapan dan kejelasan tujuan.
Sesi ini memperkuat peran Youth Break the Boundarie dalam membekali kamu dengan wawasan praktis, reflektif, dan relevan untuk berkontribusi di panggung global.




